Kejar Produksi 1 Juta Barel per Hari, Pemerintah Percepat Pengembangan Migas
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung. Foto : Detik--
AMEG.ID, Jakarta - Pemerintah mempercepat pengembangan minyak dan gas bumi (migas) nonkonvensional atau unconventional oil sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan produksi energi nasional hingga mencapai 900 ribu sampai 1 juta barel minyak per hari pada tahun 2029.
Upaya tersebut saat ini difokuskan pada pengembangan di Blok Rokan yang dinilai memiliki potensi besar untuk penerapan teknologi ekstraksi nontradisional.
Pemerintah bahkan menargetkan kerangka regulasi migas nonkonvensional dapat rampung pada akhir Juni 2026 agar implementasinya bisa dimulai pada awal Juli.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung mengatakan peningkatan produksi minyak domestik menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
"Kita berusaha untuk meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri," ujar Yuliot di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (5/6) melansir CNN Indonesia.
Menurut Yuliot, pemerintah saat ini tengah menyiapkan penerapan teknologi unconventional di sejumlah wilayah kerja migas yang memiliki cadangan minyak potensial. Dari berbagai wilayah yang dikaji, Blok Rokan menjadi kawasan yang paling siap untuk dikembangkan.
"Untuk unconventional ini, wilayah kerja yang paling memungkinkan saat ini adalah wilayah Rokan. Sudah ada kajian awal yang dilakukan oleh Pertamina Hulu Rokan untuk pengembangan unconventional ini," ujar Yuliot.
Ia mencontohkan keberhasilan Amerika Serikat dalam memanfaatkan teknologi migas nonkonvensional. Penerapan teknologi tersebut mampu meningkatkan produksi minyak secara signifikan hingga menjadikan negara tersebut sebagai eksportir energi.
Untuk mempercepat realisasi program tersebut, Kementerian ESDM telah mempertemukan penyedia teknologi unconventional dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas).
"SKK Migas minta kalau bisa akhir Juni ini sudah bisa diselesaikan kerangka regulasinya dan juga bisa diimplementasikan pada awal Juli. Jadi ini kita lagi berkejaran dengan waktu," katanya.
Selain migas nonkonvensional, pemerintah juga mendorong penerapan teknologi hydraulic fracturing (fracking) dan Enhanced Oil Recovery (EOR) di sejumlah lapangan migas guna meningkatkan produksi dari sumur-sumur yang sudah beroperasi.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengungkapkan uji awal pengembangan sumur migas nonkonvensional telah menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Salah satu sumur yang telah dibor mampu menghasilkan sekitar 500 barel minyak per hari.
"Kemarin baru satu sumur yang dibor, ada produksinya 500 barel oil per day. Nanti akan dibor dengan banyak sumur, tentunya akan ribuan barel oil per day," ujar Djoko.
Yuliot menambahkan, peningkatan produksi minyak domestik juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap sektor energi. Dengan berkurangnya kebutuhan impor, tekanan akibat fluktuasi mata uang asing dapat ditekan.
"Kalau tingkat produksi dalam negeri terjadi peningkatan, berarti kita juga akan mengurangi impor dan juga tidak terpengaruh terhadap perubahan atau fluktuasi mata uang," ucapnya.
Melalui kombinasi pengembangan migas nonkonvensional, penerapan teknologi fracking, serta Enhanced Oil Recovery (EOR), pemerintah berharap target produksi nasional sebesar 900 ribu hingga 1 juta barel minyak per hari pada 2029 dapat tercapai.
"Target produksi tahun 2029 ini berkisar antara 900 sampai 1 juta barel secara keseluruhan," ujarnya.
Sumber: