BKKBN Jatim: Ancaman Terbesar Kehangatan Keluarga Kini Bukan Jarak, Tapi HP
Ilustrasi peran ayah dalam keluarga. Foto: ybkb.or.id--
AMEG.ID, Surabaya - Kehadiran ayah dalam keluarga dinilai semakin penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital yang perlahan mengubah pola interaksi di rumah.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Timur mengingatkan bahwa tantangan keluarga saat ini bukan hanya kesibukan pekerjaan tapi juga ketergantungan terhadap telepon genggam yang dapat mengurangi kualitas komunikasi antaranggota keluarga.
Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur, Shodiqin saat mengajak masyarakat memperkuat keterlibatan ayah dalam kehidupan anak dan keluarga.
Menurutnya, kehadiran ayah tidak harus berlangsung lama setiap hari tapi harus memiliki kualitas yang mampu membangun kedekatan emosional.
“Ini ada momentum, ayah harus hadir 15 menit. Bisa menemani bermain atau makan bersama,” ujar Shodiqin mengutip Suara Surabaya.
Ia menilai waktu singkat yang digunakan secara berkualitas dapat memberikan dampak besar terhadap tumbuh kembang anak. Karena itu, BKKBN mendorong para ayah untuk memanfaatkan momen kebersamaan sederhana di rumah tanpa gangguan aktivitas lain.
Di sisi lain, Shodiqin menyoroti fenomena meningkatnya ketergantungan terhadap ponsel yang tanpa disadari telah mengurangi intensitas komunikasi dalam keluarga. Menurutnya, gawai kini seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
“Tanpa terasa, di dalam keluarga sekarang sudah ada tambahan satu anggota keluarga, yaitu HP. Kalau ketinggalan dompet mungkin masih biasa, tapi kalau HP ketinggalan, rasanya berbeda,” katanya. “Jangan sampai kita sangat bergantung pada HP, tetapi lupa dengan keluarga.”
Untuk mengatasi hal tersebut, ia mengajak setiap keluarga membuat komitmen bersama dengan menyingkirkan ponsel saat waktu kebersamaan berlangsung agar interaksi antaranggota keluarga dapat terjalin lebih optimal.
Sebagai upaya memperkuat peran ayah secara nyata, BKKBN telah menjalankan sejumlah program nasional.
Salah satunya adalah Gerakan Ayah Mengantar ke Sekolah yang dilaksanakan setiap bulan Juli bertepatan dengan masa masuk sekolah dan penerimaan mahasiswa baru.
Program tersebut juga didukung melalui surat edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN kepada para gubernur, bupati, dan wali kota agar memberikan kelonggaran waktu bagi para ayah yang bekerja untuk mengantar anaknya pada hari pertama sekolah.
“Boleh telat, tapi mengantar anak dulu ke sekolah,” tegasnya.
Selain mengantar ke sekolah, BKKBN juga mendorong keterlibatan ayah dalam momen pendidikan lainnya melalui Gerakan Ayah Mengambil Rapor.
Sumber: