Petugas siaga hadapi lonjakan aktivitas 1 Suro di Gunung Lawu
Gunung Lawu. Foto: Kompas.com--
AMEG.ID, Magetan - Momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah atau malam 1 Suro mulai meningkatkan aktivitas di kawasan Gunung Lawu.
Mengantisipasi lonjakan pengunjung yang diperkirakan terus bertambah petugas gabungan memperketat pemantauan dan pengamanan di jalur pendakian Cemoro Sewu, Kabupaten Magetan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan, ratusan orang telah tercatat melakukan pendakian maupun kegiatan spiritual di kawasan gunung yang berada di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Magetan, Eka Radityo, mengatakan hingga pemantauan terakhir terdapat sekitar 390 pendaki yang memasuki jalur Cemoro Sewu.
"Sekitar 390 pendaki tercatat melakukan aktivitas di jalur Cemorosewu, dengan rincian 150 orang berkemah di puncak dan 240 orang memilih jalur tektok (langsung turun)," ujarnya.
Menurut Eka, jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah menjelang malam 1 Suro yang jatuh pada Senin (15/6/2026).
Tradisi tahunan yang melekat dengan Gunung Lawu membuat kawasan tersebut selalu menjadi tujuan masyarakat untuk melakukan pendakian, tirakat, maupun ziarah.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD bersama sejumlah instansi telah menyiapkan personel gabungan untuk menjaga keamanan dan kelancaran aktivitas pengunjung selama periode ramai pendakian.
Petugas yang dilibatkan berasal dari unsur BPBD Magetan, Kodim Magetan, Polres Magetan, Perhutani KPH Lawu dan sekitarnya, serta relawan Paguyuban Giri Lawu (PGL).
Mereka ditempatkan di sejumlah titik guna memantau pergerakan pendaki sekaligus mengantisipasi potensi keadaan darurat.
Selain pengamanan, petugas juga memberikan perhatian khusus terhadap faktor cuaca. Meski telah memasuki musim kemarau, suhu udara di kawasan Gunung Lawu pada malam hingga dini hari diperkirakan turun cukup ekstrem sehingga pendaki diminta mempersiapkan perlengkapan yang memadai.
BPBD mengingatkan seluruh pengunjung agar melakukan registrasi resmi di basecamp sebelum memulai pendakian. Langkah tersebut penting untuk memudahkan pendataan dan proses evakuasi apabila terjadi keadaan darurat di jalur pendakian.
Petugas juga menegaskan larangan melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan. Mengingat kondisi vegetasi yang mulai mengering saat musim kemarau, risiko kebakaran dinilai lebih tinggi dibandingkan musim penghujan.
Sebagai informasi, Gunung Lawu memiliki makna khusus bagi sebagian masyarakat Jawa, terutama saat memasuki bulan Suro. Selain dikenal sebagai destinasi wisata alam, kawasan ini juga menjadi lokasi yang kerap digunakan untuk kegiatan spiritual seperti tirakat dan ziarah.
Sumber: