Hampir Kuasai Separuh Mangrove di Pulau Jawa, Jatim Perkuat Benteng Hadapi Krisis Iklim
iTanaman Mangrove di pessir pantai. Foto: Istimewa--
AMEG.ID, Surabaya - Jawa Timur terus memperkuat posisinya sebagai salah satu wilayah dengan ekosistem mangrove terbesar di Indonesia.
Bertepatan dengan peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026, Pemprov Jatim menegaskan komitmennya menjaga kawasan pesisir sebagai benteng alami menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus menopang kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.
Komitmen itu disampaikan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat dalam upaya pelestarian mangrove.
Menurutnya, keberadaan hutan mangrove bukan hanya berperan menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat pesisir.
"Menjaga mangrove berarti menjaga ketahanan pesisir sekaligus memperkuat upaya mitigasi perubahan iklim. Ini adalah warisan lingkungan yang harus kita siapkan untuk anak cucu di masa depan," kata Khofifah mengutip Memorandum.
Data Pemprov Jatim menunjukkan luas kawasan mangrove di provinsi ini mengalami peningkatan secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021, luas mangrove tercatat mencapai 27.221 hektare.
Luasan itu kemudian meningkat menjadi 30.839 hektare pada 2024 dan kembali bertambah menjadi 31.067 hektare pada 2025. Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi yang memiliki sekitar 47,85 persen dari total ekosistem mangrove di Pulau Jawa.
Besarnya luasan tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat perlindungan wilayah pesisir dari ancaman abrasi, intrusi air laut, hingga dampak cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim.
Selain memiliki fungsi ekologis, kawasan mangrove juga menjadi penopang aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Ekosistem tersebut menyediakan habitat alami bagi berbagai jenis biota laut, seperti ikan, udang, kepiting, dan kerang yang menjadi sumber penghasilan utama bagi nelayan. Kondisi itu membuat keberlanjutan hutan mangrove memiliki kaitan erat dengan ketahanan ekonomi masyarakat di wilayah pesisir.
Khofifah menilai peningkatan luas mangrove di Jawa Timur merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak yang selama ini terlibat dalam kegiatan rehabilitasi kawasan pesisir. Mulai dari pemerintah, masyarakat pesisir, akademisi, komunitas lingkungan hingga dunia usaha disebut berkontribusi dalam penanaman dan perawatan mangrove.
"Pertumbuhan ini merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat pesisir, akademisi, komunitas lingkungan hingga dunia usaha yang selama ini aktif menanam dan merawat mangrove," tuturnya.
Untuk menjaga tren positif tersebut, Pemprov Jatim terus menjalankan berbagai program konservasi. Di antaranya melalui gerakan Nandur Mangrove serta Festival Mangrove yang telah diselenggarakan selama tiga tahun berturut-turut sebagai upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian kawasan pesisir.
Ke depan, pengelolaan mangrove di Jawa Timur tidak hanya difokuskan pada aspek konservasi. Pemerintah juga mendorong pengembangan kawasan mangrove sebagai pusat edukasi, penelitian, ekowisata, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sumber: