Permintaan Pertalite Meningkat, Pertamina Tambah Pasokan BBM ke Malang Raya
Sales Branch Manager Pertamina Malang Imam Rizki. Foto: City Guide FM / Heri Prasetyo--
AMEG.ID, Kota Malang - Perubahan pilihan bahan bakar masyarakat mendorong Pertamina meningkatkan pasokan BBM untuk wilayah Malang Raya. Penyesuaian harga produk nonsubsidi dinilai membuat sebagian konsumen beralih dari Pertamax ke Pertalite yang memiliki harga lebih rendah.
Sales Branch Manager Pertamina Malang Imam Rizki mengatakan tambahan pasokan telah disalurkan melalui Depo Malang di Jalan Halmahera. Langkah itu dilakukan untuk mengimbangi kenaikan konsumsi sekaligus menjaga ketersediaan BBM di sejumlah SPBU.
“Setelah adanya penyesuaian harga, terutama untuk produk-produk nonsubsidi, secara tidak langsung terjadi shifting masyarakat. Dari yang tadinya menggunakan Pertamax, beralih ke Pertalite yang harganya lebih murah,” kata Imam.
Penyaluran gasoline atau kelompok bahan bakar bensin, termasuk Pertalite yang biasanya berada pada kisaran 700 kiloliter per hari kini ditingkatkan menjadi 888 kiloliter. Artinya, terdapat tambahan pasokan sekitar 188 kiloliter setiap hari.
Kenaikan kebutuhan BBM tidak hanya dipengaruhi perpindahan konsumsi dari produk nonsubsidi. Aktivitas masyarakat selama Agustus juga mengalami peningkatan salah satunya seiring kedatangan mahasiswa baru di berbagai perguruan tinggi di Malang.
Bertambahnya jumlah mahasiswa ikut meningkatkan mobilitas harian terutama penggunaan kendaraan roda dua. Kondisi itu berpengaruh terhadap permintaan bahan bakar di kawasan kampus dan sejumlah jalur dengan aktivitas masyarakat yang tinggi.
Peningkatan pasokan juga dilakukan untuk jenis Solar. Dalam kondisi normal, distribusi Solar dari Depo Malang berada pada kisaran 280 sampai 300 kiloliter per hari. Jumlah tersebut kemudian dinaikkan menjadi sekitar 360 kiloliter setiap hari.
Jika dibandingkan dengan batas atas penyaluran normal sebesar 300 kiloliter, tambahan Solar mencapai 60 kiloliter atau sekitar 20 persen. Penambahan ini disiapkan untuk mengantisipasi pertumbuhan konsumsi kendaraan diesel dan menjaga distribusi tetap berjalan.
Sementara itu, Imam menjelaskan penyesuaian harga BBM nonsubsidi berkaitan dengan perkembangan harga minyak mentah dunia. Menurut data yang disampaikannya harga minyak mentah berada di kisaran 92 dolar AS per barel.
Angka itu dinilai lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang berada pada kisaran 40–50 dolar AS per barel dan pada kondisi tertentu mencapai sekitar 70 dolar AS. Perubahan harga bahan baku tersebut kemudian memengaruhi biaya penyediaan dan harga jual produk BBM nonsubsidi.
Berbeda dengan produk nonsubsidi, selisih antara harga jual dan biaya keekonomian BBM subsidi ditanggung melalui anggaran pemerintah.
“Kalau yang subsidi, kelebihannya ditanggung oleh pemerintah. Kekurangan dari biaya keekonomiannya ditanggung oleh negara,” ujar Imam melansir City Guide FM.
Pertamina selanjutnya terus memantau pola konsumsi dan distribusi BBM ke SPBU di Malang Raya. Pemantauan diperlukan untuk melihat lokasi yang mengalami peningkatan permintaan serta memastikan tambahan pasokan tersalurkan sesuai kebutuhan.
Penambahan distribusi menjadi langkah jangka pendek untuk merespons peningkatan mobilitas dan perubahan pola konsumsi masyarakat. Meski pasokan telah dinaikkan, ketersediaan di setiap SPBU tetap dipengaruhi kecepatan penyaluran, kapasitas penyimpanan, dan besarnya pembelian konsumen.
Sumber: https://cityguide911fm.com/konsumsi-bbm-di-malang-naik-10-persen-pertamina-tambah-pasokan/