Kemarau Panjang Ancam Panen, Jatim Siapkan Pompa hingga Bantuan Bibit

Kemarau Panjang Ancam Panen, Jatim Siapkan Pompa hingga Bantuan Bibit

Ilustrasi lahan pertanian yang mulai mengering akibat cuaca kemarau. Foto: Istimewa--

AMEG.ID, Surabaya - Ancaman kekeringan di Jawa Timur mulai diarahkan pada upaya penyelamatan lahan pertanian agar dampaknya tidak berkembang menjadi gagal panen.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan sejumlah intervensi mulai dari memasok air hingga menyiapkan bantuan bagi petani yang mengalami kerugian.

Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak mengatakan pemerintah terlebih dahulu memetakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan kekeringan. Pemetaan itu menjadi dasar untuk menentukan bentuk bantuan sesuai kondisi sumber air dan kebutuhan masing-masing daerah.

“Kita sudah menginventarisasi titik-titik yang punya potensi kerawanan kekeringan. Kemudian solusinya itu ada tiga,” ungkap Emil mengutip Berita Jatim.

Menurut Emil, penanganan tidak dapat dilakukan dengan satu pola untuk seluruh wilayah. Lahan yang masih memiliki akses terhadap sumber air permukaan akan mendapat penanganan berbeda dengan daerah yang harus mengandalkan cadangan air tanah.

“Pertama, kalau ada air permukaan yang masih terjangkau jalurnya adalah penggunaan pompa. Kedua, apabila ada kesiapan dan potensi air tanah, maka adalah sumur bor. Dan yang ketiga tentunya adalah pemipaan,” terang Emil.

Langkah itu dilakukan di tengah kondisi kemarau yang cukup panjang di sejumlah wilayah Jawa Timur. Berdasarkan pembaruan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur per 10 September 2026, sejumlah wilayah telah mengalami hari tanpa hujan berturut-turut lebih dari 60 hari atau masuk kategori kekeringan ekstrem.

Situasi itu membuat distribusi pompanisasi menjadi salah satu langkah yang didorong pemerintah untuk mempertahankan lahan yang masih memungkinkan diselamatkan. Bantuan diberikan secara bertahap ke wilayah yang mulai mengalami tekanan akibat keterbatasan air.

Namun, pemerintah juga menyiapkan skenario apabila upaya mempertahankan tanaman tidak berhasil. Pemprov Jatim menyiapkan dukungan melalui Biaya Tidak Terduga (BTT) termasuk bantuan bibit agar petani yang mengalami gagal panen dapat kembali menyiapkan lahan pada musim tanam berikutnya.

“Kalau kita bisa mereduksi yang akhirnya gagal panen, maka bagi yang gagal panen inilah kita berikan bantuan. Yang minimal dari Pemprov bisa berikan itu adalah tentunya bantuan bibit untuk musim tanam berikutnya,” tuturnya.

Emil mengatakan penanganan itu membutuhkan koordinasi lintas instansi. Pemprov Jatim berkomunikasi dengan Kementerian Pertanian, jajaran direktorat jenderal terkait, hingga dinas pertanian di tingkat kabupaten dan kota untuk memperbarui kondisi wilayah terdampak.

Selain intervensi langsung di lahan, pemerintah juga menempuh langkah untuk meningkatkan peluang turunnya hujan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Upaya ini dilakukan bersama BNPB dan BMKG dengan mempertimbangkan kondisi pertumbuhan awan di wilayah Jawa Timur.

Posisi Jawa Timur sebagai salah satu sentra produksi pangan membuat ketersediaan air untuk sektor pertanian menjadi perhatian khusus. Karena itu, OMC ditempatkan sebagai salah satu opsi tambahan di tengah upaya mempertahankan produktivitas pertanian selama kemarau.

“Ini menjadi sebuah oase, tetapi tentu enggak cukup mengingat kondisi kering dengan melihat kebutuhan kita. Kita terus berikhtiar karena BNPB dan BMKG telah menjadikan Jawa Timur salah satu titik prioritas,” tegas Emil.

Sumber: