Jawa Timur Siapkan Tenaga Kerja Hadapi Perubahan Industri Lewat Green Jobs
Pelatihan Fasilitator Green Soft Skills Jawa Timur sebagai bagian dari Proyek GESIT hasil kerja sama Indonesia dan Jerman di Surabaya, Rabu (30/9/2026). Foto: Istimewa--
AMEG.ID, Surabaya - Perubahan kebutuhan industri mendorong Jawa Timur menyiapkan pola pelatihan kerja yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis. Keterampilan yang berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan mulai dimasukkan sebagai bagian dari kompetensi tenaga kerja melalui pengembangan green jobs.
Langkah ini menjadi bagian dari kerja sama Indonesia dan Jerman yang melibatkan Kementerian PPN/Bappenas. Jawa Timur dipilih sebagai salah satu provinsi pionir untuk mengembangkan ekosistem pekerjaan hijau melalui pelatihan fasilitator green soft skills.
Program ini diarahkan agar lembaga pelatihan dan pendidikan vokasi mampu membekali tenaga kerja dengan kemampuan yang sesuai perubahan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Pemetaan sektor unggulan daerah menjadi salah satu tahapan yang diperlukan sebelum kompetensi diterapkan lebih luas.
Direktur Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas, Nur Hygiawati Rahayu mengatakan pendekatan di tingkat daerah diperlukan karena setiap provinsi memiliki karakteristik sektor ekonomi dan kebutuhan tenaga kerja yang berbeda.
“Memang kita sebut pionir, bukan pilot, dengan artian memang ini baru pertama ya di tingkat provinsi, sehingga kita bisa mendorong juga provinsi-provinsi ini untuk kemudian bergerak cepat dan bisa juga menularkan ke provinsi lainnya,” ujarnya melansir Berita Jatim.
Menurut Bappenas, konsep pekerjaan hijau tidak terbatas pada satu bidang industri. Karena itu, pengembangan kompetensi perlu disesuaikan dengan sektor yang berkembang di masing-masing daerah tanpa menghilangkan prinsip keberlanjutan.
“Jadi kalau secara nasional kita sudah ada kebijakan nasional, tapi di provinsi, misalnya provinsi memiliki lagi fokus-fokus atau sektor tertentu yang kemudian itu perlu kita lihat. Tetap pada prinsipnya untuk green jobs ini memang lintas sektor,” kata Nur Hygiawati.
Di sisi lain, Kepala Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Sidoarjo Kementerian Ketenagakerjaan, Muhammad Aiza Akbar menyebut lulusan SMK, pekerja yang terkena PHK, hingga masyarakat umum dapat menjadi sasaran program. Penerapan materi tidak berhenti pada kegiatan pelatihan.
Kebutuhan terhadap pola pelatihan baru juga membuat keberlanjutan kurikulum menjadi perhatian. Bappenas mendorong agar modul yang telah disiapkan tidak hanya digunakan dalam satu kegiatan, tetapi dapat dikembangkan dan diterapkan oleh lembaga pendidikan maupun pelatihan lainnya.
“Jadi ini sebenarnya banyak yang sudah lebih tahap berikutnya. Karena sebenarnya kalau kita sudah tahu ada modulnya, sudah kita siapkan oleh pemerintah tadi standar kompetensinya gitu ya, jadi pelatihan-pelatihan ini sebenarnya hanya menjadi contoh untuk kemudian bisa bergerak lagi ke depan,” kata Nur Hygiawati.
Penguatan ekosistem juga dilakukan melalui koordinasi antara pemerintah daerah, lembaga vokasi dan dunia usaha. Tim Koordinasi Daerah Vokasi (TKDV) menjadi salah satu wadah untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan arah pengembangan tenaga kerja di daerah.
Bagi Jawa Timur, pengembangan green jobs tidak hanya berkaitan dengan isu lingkungan tapi juga dengan kesiapan sumber daya manusia menghadapi transformasi kebutuhan pasar kerja.
Sumber: