Bukan Bunga Murah, Pebisnis Prioritaskan Rupiah Stabil

Kamis 16-07-2026,09:43 WIB
Reporter : Admin ameg
Editor : Admin ameg

AMEG.ID, Jakarta - Ketidakpastian ekonomi global membuat pelaku usaha di Indonesia mengubah prioritas dalam menjaga keberlangsungan bisnis.

Alih-alih berharap suku bunga acuan turun untuk mendorong ekspansi, mayoritas perusahaan kini lebih menginginkan stabilitas nilai tukar rupiah agar aktivitas usaha tetap berjalan dengan kepastian biaya.

Temuan itu terungkap dalam survei Kadin Business Pulse Kuartal II 2026 yang dilakukan Kadin Indonesia Institute terhadap 276 perusahaan anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang tersebar di 27 provinsi.

Hasil survei menunjukkan stabilitas kurs menjadi faktor utama yang dinilai mampu memulihkan kepercayaan dunia usaha di tengah tekanan ekonomi.

Direktur Insights Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian mengatakan preferensi tersebut mencerminkan kondisi riil yang sedang dihadapi para pelaku usaha. Menurutnya, perusahaan saat ini lebih fokus menjaga kelangsungan operasional dibandingkan merencanakan ekspansi bisnis.

"Kalau kita lihat hasil survei, ternyata dunia usaha lebih mementingkan stabilisasi nilai tukar rupiah dibandingkan penurunan suku bunga," ujar Fakhrul melansir CNN Indonesia.

Ia menjelaskan stabilnya nilai tukar memberikan kepastian terhadap biaya produksi terutama bagi perusahaan yang masih mengandalkan bahan baku maupun komponen impor.

Sebaliknya, fluktuasi kurs dinilai berpotensi meningkatkan beban operasional dan mengganggu perencanaan bisnis dalam jangka menengah.

Menurut Fakhrul, situasi itu membuat dunia usaha memilih strategi bertahan menghadapi kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Langkah ekspansi dinilai baru akan menjadi pilihan setelah kondisi ekonomi dan pasar menunjukkan perbaikan yang lebih stabil.

"Prioritasnya masih survival dulu, bertahan hidup. Sementara untuk mengembangkan usaha, itu nanti," katanya.

Fakhrul menambahkan penurunan suku bunga memang dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk memperoleh pembiayaan yang lebih murah. Namun, manfaat tersebut belum akan terasa optimal apabila pelaku usaha masih dibayangi ketidakpastian akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

"Karena kalau usahanya kencang, rupiahnya stabil. Kalau usahanya kencang, sering kali pelaku usaha bayar bunga juga tidak terlalu menjadi persoalan. Marginnya bisa dua kali lipat atau tiga kali lipat," ujarnya.

Sebaliknya, ia menilai pelemahan rupiah memiliki dampak yang lebih langsung terhadap dunia usaha karena meningkatkan biaya pembelian bahan baku, logistik, maupun kebutuhan produksi lainnya yang berkaitan dengan transaksi menggunakan mata uang asing.

Hasil survei menunjukkan sebanyak 65,2 persen responden menilai pelemahan nilai tukar rupiah akan memberikan dampak negatif terhadap prospek bisnis dalam enam hingga 12 bulan ke depan. Dampak yang paling banyak dirasakan adalah meningkatnya biaya operasional perusahaan.

Ketika diminta menentukan faktor yang paling dibutuhkan untuk memulihkan optimisme terhadap perekonomian nasional, 26,1 persen responden memilih stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai prioritas utama.

Kategori :