AMEG.ID, Mojokerto - Mekanisasi pertanian mulai didorong lebih luas di Jawa Timur untuk memangkas waktu kerja petani sekaligus mengurangi hasil panen yang hilang di lapangan.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menilai pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) dapat menjadi salah satu cara meningkatkan efisiensi produksi pangan.
Salah satu alat yang menjadi perhatian adalah combine harvester. Mesin ini memungkinkan proses panen berlangsung jauh lebih singkat dibandingkan cara manual, sehingga petani dapat menghemat waktu sekaligus menekan potensi kehilangan gabah selama proses panen.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengatakan penggunaan alsintan diharapkan tidak hanya dinikmati oleh kelompok tani penerima bantuan. Pemanfaatan secara bersama-sama dinilai dapat memperluas akses petani terhadap mesin pertanian.
“Panen dengan cara manual itu tiga hari satu hektare, kalau pakai combine harvester di tanah yang seperti ini bisa satu jam per hektar. Artinya alsintan ini InsyaAllah akan memberikan efisiensi bagi petani terutama dan ini bisa saling dipinjamkan disewakan ke poktan lainnya,” tuturnya.
Efisiensi waktu juga berkaitan dengan upaya mengurangi susut hasil panen. Semakin cepat proses pemanenan dilakukan semakin kecil potensi gabah tercecer atau hilang selama pekerjaan berlangsung.
“Loses-nya itu kalau di panen manual itu bisa sembilan sampai sebelas persen kalau pakai combine harvester losses-nya kira-kira tinggal satu sampai dua persen, jadi efisiensi dan efektivitasnya tinggi produktivitasnya tinggi,” jelasnya mengutip Suara Surabaya.
Untuk mendukung mekanisasi itu, Pemprov Jatim menyalurkan 341 unit alsintan kepada kelompok tani di sejumlah sentra produksi pangan. Sebanyak 231 unit diperuntukkan bagi kebutuhan prapanen, sedangkan 110 unit lainnya digunakan pada tahap pascapanen.
Penyaluran dimulai dari Kabupaten Mojokerto dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Pemprov Jatim dan akan dilanjutkan ke daerah penghasil pangan lainnya.
“Dalam rangka Hari Jadi Pemprov Jatim yang ke 81 kita memang akan keliling menyampaikan bantuan alsintan kepada poktan-poktan dan kita mengawalinya dari Kabupaten Mojokerto,” ujarnya.
Di Mojokerto, bantuan yang diterima kelompok tani terdiri atas lima unit pompa air berukuran 4 inci dan dua unit combine harvester besar. Kehadiran pompa diarahkan untuk membantu petani menjaga ketersediaan air ketika kondisi lahan menghadapi keterbatasan pasokan.
“Itu sumur-sumur atau pompa-pompa ini menjadi penting untuk terus kita maksimalkan,” jelasnya.
Selain mempercepat pekerjaan, pemanfaatan mesin secara kolektif diharapkan membuat bantuan pemerintah memiliki jangkauan lebih luas. Kelompok tani penerima dapat mengatur penggunaan alat dengan kelompok lain termasuk melalui mekanisme peminjaman atau penyewaan.
Dengan pola itu, mekanisasi tidak berhenti pada penambahan jumlah alat di satu kelompok tani. Pemprov Jatim mendorong agar keberadaan alsintan benar-benar dimanfaatkan untuk mempercepat pekerjaan, menjaga produktivitas, dan mengurangi kehilangan hasil pertanian di sentra pangan.