Ribuan Pekerja di Jatim Terancam PHK, Pemprov Fokus Selamatkan Hak Buruh

Ribuan Pekerja di Jatim Terancam PHK, Pemprov Fokus Selamatkan Hak Buruh

Pekerja pabrik tekstil. Foto: Istimewa--

AMEG.ID, Surabaya - Gelombang ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali membayangi dunia industri di Jawa Timur.

Berdasarkan hasil kajian Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jatim, sedikitnya 4.400 pekerja berpotensi kehilangan pekerjaan akibat tekanan ekonomi global hingga persoalan internal yang dihadapi sejumlah perusahaan.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan pemprov saat ini tengah memetakan tingkat risiko di setiap perusahaan sekaligus menyiapkan langkah mitigasi agar dampak terhadap tenaga kerja dapat diminimalkan.

Upaya tersebut juga difokuskan untuk memastikan hak-hak pekerja tetap terpenuhi apabila PHK tidak dapat dihindari.

Emil menyebut ancaman terbesar berasal dari PT Pabrik Kertas Indonesia (PT Pakerin) di Mojokerto. Sekitar 2.500 pekerja perusahaan yang bergerak di bidang produksi kertas industri dan soda api itu terancam kehilangan mata pencaharian setelah muncul rencana penghentian operasional akibat konflik internal perusahaan.

Menurut Emil, kewenangan pemerintah daerah memiliki batas karena perusahaan tersebut merupakan badan usaha swasta. Kendati demikian, Pemprov Jatim memastikan akan mengawal proses penyelesaian persoalan ketenagakerjaan agar pekerja tidak dirugikan.

“Ini kan perusahaan swasta murni, di mana pemiliknya memutuskan tidak melanjutkan usaha. Pemprov tidak bisa serta-merta mengambil alih (step in). Namun, yang kita kejar dan kawal ketat adalah kewajiban pengusaha terhadap para pekerja. Hak-hak buruh tidak boleh diabaikan,” katanya melansir Inews.

Selain mengawasi pemenuhan hak pekerja, Pemprov Jatim juga berencana berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian guna membahas peluang keberlanjutan operasional PT Pakerin. Salah satu alternatif yang dipertimbangkan adalah membuka peluang masuknya investor baru sehingga aset, teknologi produksi, dan jaringan usaha perusahaan tetap dapat dimanfaatkan.

Tak hanya PT Pakerin, potensi PHK juga teridentifikasi di sejumlah perusahaan lain yang berada di Jombang, Pasuruan, Surabaya, dan wilayah industri lainnya.

Penyebabnya bervariasi mulai dari melemahnya permintaan pasar ekspor, meningkatnya biaya produksi, efisiensi perusahaan, persoalan operasional, hingga penyesuaian kebutuhan tenaga kerja.

Sementara itu, terkait dua perusahaan komponen otomotif di Jawa Timur yang sebelumnya dikabarkan berpotensi memindahkan sebagian produksi ke Vietnam, Emil menyebut pemerintah masih terus memantau perkembangan situasi.

Hingga kini, penyesuaian yang dilakukan perusahaan disebut masih berupa pengurangan volume pesanan dan belum mengarah pada penghentian operasional secara menyeluruh.

Sumber:

Berita Terkait