Angkot Tak Tergusur, Dishub Siapkan Peran Baru Saat Trans Jatim Beroperasi
Bus Trans Jatim Koridor Malang Raya. Foto: Istimewa--
AMEG.ID, Kota Malang - Rencana pengoperasian Koridor II Trans Jatim di wilayah Malang Raya tidak hanya difokuskan pada peningkatan layanan transportasi publik tapi juga dirancang agar tidak mengganggu keberlangsungan angkutan kota (angkot).
Pemprov Jatim kini masih mematangkan skema operasional termasuk penetapan rute dan pola integrasi dengan transportasi yang telah lebih dulu beroperasi.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim, Nyono mengatakan hingga saat ini pembahasan rute Koridor II masih berlangsung bersama pemerintah daerah dan para pelaku transportasi. Langkah itu dilakukan agar implementasi layanan baru dapat diterima seluruh pihak sekaligus meminimalkan dampak terhadap mata pencaharian pengemudi angkot.
"Sebagian besar sudah mendukung, tetapi komunikasi tetap kami lanjutkan supaya semuanya bisa berjalan dengan baik," ujar Nyono mengutip Lentera.
Salah satu keputusan yang telah dipastikan ialah bus Trans Jatim tidak akan melayani rute di kawasan pusat Kota Malang. Layanan hanya akan masuk hingga Terminal Arjosari sebagai titik integrasi antarmoda.
Dengan konsep tersebut, angkutan lokal tetap diharapkan menjadi moda lanjutan yang menghubungkan penumpang menuju berbagai kawasan di dalam kota. Menurut Nyono, skema itu justru membuka peluang baru bagi angkutan pengumpan (feeder).
Penumpang yang datang menggunakan bus Trans Jatim diproyeksikan akan melanjutkan perjalanan menggunakan angkot atau moda transportasi lokal lainnya menuju tujuan akhir.
"Trans Jatim membawa penumpang ke daerah-daerah itu. Jadi bukan menghabiskan penumpang angkot, tetapi justru menjadi sumber penumpang baru bagi angkutan lokal," ujarnya.
Selain menjaga keberlangsungan usaha angkot, Dishub Jatim juga memastikan pengemudi angkot tetap memperoleh kesempatan bekerja dalam operasional Trans Jatim. Nantinya, sopir maupun petugas pendukung layanan akan diprioritaskan berasal dari kalangan pengemudi angkot yang selama ini beroperasi di wilayah Malang Raya.
"Seluruh sopir bus Trans Jatim nantinya berasal dari sopir angkot yang selama ini beroperasi. Begitu juga petugas pendukung lainnya. Jadi ini bukan mengambil mata pencaharian mereka, justru memberdayakan mereka," jelasnya.
Sebagai bagian dari persiapan, Dishub Jatim telah menginventarisasi sekitar 80 armada angkot di Kota Malang yang berpotensi mendukung skema integrasi tersebut. Meski begitu, seluruh kendaraan tetap harus melalui pemeriksaan teknis untuk memastikan kelayakan operasional.
"Pemeriksaan kelayakan tetap menjadi prioritas. Armada yang tidak memenuhi spesifikasi tentu harus dilakukan pembenahan terlebih dahulu," kata Nyono.
Di sisi lain, paguyuban angkot turut menyampaikan aspirasi agar Pemkot Malang segera merealisasikan program Buy The Service (BTS) untuk layanan angkutan pelajar. Program itu dinilai dapat menjadi stimulus bagi pengemudi angkot agar tetap memiliki kepastian pendapatan seiring hadirnya sistem transportasi publik yang lebih terintegrasi.
Sementara itu terkait lintasan Koridor II, Dishub Jatim masih membuka dua opsi. Rute awal direncanakan menghubungkan Terminal Arjosari, Terminal Hamid Rusdi, Bululawang, Wonokoyo, Kepanjen hingga Talangagung.
Sumber: