Tiga Titik Api Tersisa di Bromo, Tim Pemadam Berpacu dengan Angin dan Tebing Curam
Suasana upaya pemadaman api di kawasan Gunung Bromo. Foto: Antara--
AMEG.ID, Probolinggo - Tiga titik api yang masih bertahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menjadi fokus penanganan tim gabungan setelah kebakaran hutan dan lahan menghanguskan sedikitnya 176,3 hektare per Jumat (07/08).
Pemadaman kini diarahkan pada lokasi-lokasi yang tidak mudah dijangkau dari darat terutama kawasan Tebing B29 yang memiliki kontur curam.
Kondisi geografis itu membuat penanganan tidak dapat hanya mengandalkan personel darat. Helikopter water bombing, drone penyemprot air, serta petugas yang bergerak melalui jalur darat digunakan secara bersamaan untuk mempersempit ruang penyebaran api.
Operasi pemadaman udara dimulai Jumat sekitar pukul 16.00 WIB menggunakan satu helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Helikopter berkapasitas angkut 1.000 liter air itu diberangkatkan dari Ranu Pani, Kabupaten Lumajang menuju Pusung Jantur di Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Namun, sempitnya waktu penerbangan membuat operasi belum dapat berlangsung maksimal. Berdasarkan ketentuan Lanud Abdulrachman Saleh, aktivitas helikopter hanya diizinkan sampai pukul 16.30 WIB. Pemadaman udara kemudian dihentikan dan dijadwalkan berlanjut pada Sabtu (08/08).
Untuk memperkuat penanganan, Pemprov Jatim berencana menambah satu helikopter. Penambahan armada diharapkan mempercepat pemadaman tiga titik api yang masih terpantau di kawasan Bromo.
"Helikopter BNPB berkapasitas 1.000 liter air sudah melakukan pemadaman hari ini. Nanti kan ditambah satu helikopter lagi sehingga ada dua helikopter yang beroperasi. Semoga karhutla di Bromo yang tinggal tiga titik segera padam," ujar Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengutip Berita Satu.
Selain medan yang terjal, perubahan arah angin turut menentukan efektivitas water bombing. Titik pelepasan air harus diperhitungkan secara cermat agar muatan tidak terbawa angin dan tetap mengenai area yang terbakar.
Keadaan tersebut membuat setiap penerbangan memerlukan koordinasi antara awak helikopter dan petugas yang memantau pergerakan api di lapangan.
"Selain helikopter, petugas juga masih memanfaatkan drone penyemprot air untuk menjangkau lokasi kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat," jelasnya.
Selain itu, Ranu Pani dipilih sebagai lokasi pengambilan air karena hanya berjarak sekitar 300 meter dari area kebakaran. Kedekatan itu memungkinkan helikopter kembali mengisi muatan dalam waktu relatif singkat dan melakukan penyiraman secara berulang.
Air yang dijatuhkan tidak semata-mata diarahkan ke kobaran api. Vegetasi kering di sekitar titik kebakaran juga dibasahi untuk membentuk area penahan sekaligus mencegah munculnya api baru. Langkah itu dinilai penting karena musim kemarau membuat rerumputan dan tanaman kering mudah tersulut sedangkan tiupan angin dapat mempercepat penjalaran api.
Dengan kombinasi pemadaman udara, penggunaan drone, dan pergerakan petugas darat, penanganan karhutla TNBTS kini berfokus pada dua sasaran yakni menuntaskan tiga titik api yang tersisa dan mencegah kebakaran kembali meluas ke kawasan konservasi lainnya.
Sumber: