Ojol Jadi Kunci Pasar Molinas, Danantara Soroti Bunga Kredit Motor hingga 40 Persen

Ojol Jadi Kunci Pasar Molinas, Danantara Soroti Bunga Kredit Motor hingga 40 Persen

Pengemudi ojek online (ojol) menggunakan motor listrik. Foto: Harian Disway--

AMEG.ID, Jakarta - Pengembangan Motor Listrik Nasional (Molinas) tidak hanya diarahkan pada produksi kendaraan tapi juga pada persoalan siapa yang akan menggunakan dan bagaimana masyarakat mampu membelinya.

BPI Danantara Indonesia kini membidik pengemudi ojek online dan sektor logistik sebagai salah satu pasar utama sekaligus menyiapkan skema pembiayaan yang dinilai lebih terjangkau.

Managing Director Industrialization Danantara Indonesia Ardy Muawin mengatakan perusahaan aplikator ojek online akan dilibatkan dalam pembangunan ekosistem Molinas. Perusahaan logistik juga diajak masuk untuk membantu memetakan kebutuhan riil kendaraan listrik terutama dari kelompok pengguna dengan mobilitas tinggi setiap hari.

Pelibatan itu dinilai penting karena keberhasilan motor listrik nasional tidak cukup hanya bergantung pada kesiapan produk. Permintaan pasar, akses kredit, biaya kepemilikan hingga kemampuan konsumen membayar cicilan menjadi faktor yang ikut menentukan apakah kendaraan tersebut nantinya dapat digunakan secara luas.

Salah satu persoalan yang mencuat adalah akses pembiayaan bagi pengemudi ojek online. Berdasarkan masukan yang diterima Danantara dari Grab, sebagian pengemudi masih kesulitan mengakses kredit kendaraan karena terkendala riwayat kredit dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK, yang sebelumnya dikenal sebagai BI Checking.

Menurut Ardy, aktivitas pengemudi dapat menjadi salah satu indikator untuk mengukur kemampuan membayar. Pengemudi dengan performa baik aktif bekerja setiap hari dan memiliki pendapatan rutin dinilai dapat memiliki profil risiko berbeda dibandingkan konsumen kendaraan pada umumnya.

Danantara kemudian mempertimbangkan skema pembiayaan yang lebih sesuai dengan pola pendapatan pengemudi. Salah satu opsi yang dibahas adalah pembayaran cicilan secara harian sehingga kewajiban pembayaran dapat disesuaikan dengan arus pemasukan pengemudi.

Selain itu, risiko kredit juga dinilai dapat ditekan menggunakan dukungan teknologi, termasuk kemungkinan sistem yang dapat menonaktifkan kendaraan apabila kewajiban cicilan tidak dipenuhi.

"Credit risk-nya bisa kita turunkan, sehingga harapannya cost of money bisa rendah, sehingga kita akan men-stimulate demand dari sisi teman-teman konsumen," ujar Ardy melansir CNN Indonesia.

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah tingginya bunga kredit sepeda motor. Ardy menyebut suku bunga pembiayaan motor dapat mencapai sekitar 30 hingga 40 persen jauh dibandingkan kredit mobil yang berada di kisaran 12 persen.

Perbedaan tersebut dinilai berpotensi menjadi hambatan ketika pemerintah dan industri berupaya memperluas penggunaan kendaraan listrik roda dua. Harga kendaraan yang harus dibayar melalui skema kredit dapat semakin tinggi apabila beban bunga tetap besar.

Ardy juga menyoroti pola penjualan di tingkat dealer yang cenderung mendorong pembelian secara kredit karena berkaitan dengan insentif penjualan. Kondisi itu dinilai perlu dibenahi agar skema pembiayaan tidak justru menjadi beban bagi calon pengguna Molinas.

Untuk itu, Danantara akan melibatkan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dalam menyusun struktur pembiayaan yang lebih kompetitif. Langkah tersebut diarahkan untuk menekan biaya dana sekaligus membuka akses kredit lebih luas bagi pengguna potensial motor listrik.

Dengan strategi tersebut, pengemudi ojek online tidak hanya ditempatkan sebagai calon konsumen Molinas tapi juga sebagai salah satu penggerak awal ekosistem kendaraan listrik nasional. Tantangannya kini berada pada kemampuan pemerintah, lembaga pembiayaan, aplikator dan produsen menyusun skema yang membuat harga kendaraan serta cicilan benar-benar sesuai dengan kemampuan pengguna.

Sumber: