Karhutla Jatim Tembus 7.363 Hektare, Akses Terjal Jadi Hambatan Pemadaman

Karhutla Jatim Tembus 7.363 Hektare, Akses Terjal Jadi Hambatan Pemadaman

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Foto: Istimewa--

AMEG.ID, Surabaya - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Timur mencapai 7.363,30 hektare selama Agustus hingga September. Sulitnya akses menuju sejumlah titik api membuat petugas memprioritaskan penyekatan agar kebakaran tidak meluas terutama ke kawasan permukiman warga.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengungkap berdasarkan data Dinas Kehutanan Provinsi Jatim sebagian besar area terbakar berada di kawasan konservasi dengan luas mencapai 5.814,90 hektare termasuk kawasan taman nasional dan wilayah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur.

Dari total luasan tersebut, Emil menyebut Taman Nasional Baluran menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak.

Penanganan kebakaran di wilayah konservasi tidak sepenuhnya berada dalam kewenangan pemerintah provinsi. Pengelolaan kawasan dan penegakan hukum menjadi tanggung jawab pemerintah pusat melalui kementerian serta instansi yang berwenang.

"Berdasarkan data dari Dinas Kehutanan, memang kebakaran ini juga terjadi di dua wilayah lain yaitu wilayah Perhutani dan juga wilayah Taman Nasional. Nah di dua wilayah ini kita berkoordinasi dengan instansi yang berwenang di masing-masing lokasi yaitu Taman Nasional di Kementerian Kehutanan, Baluran, dan juga Perhutani," ujar Emil.

Selain kawasan konservasi, kebakaran juga melanda hutan produksi dan hutan lindung yang dikelola Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur. Luas area terdampak tercatat 1.031,95 hektare atau sekitar 14 persen dari keseluruhan lahan terbakar.

Menurut Emil, kawasan Perhutani yang berbatasan langsung dengan lahan milik masyarakat memiliki potensi gesekan sosial lebih tinggi. Karena itu, koordinasi lintas instansi menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran di wilayah tersebut.

Sementara itu, di kawasan yang berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yakni UPT Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo di Kabupaten Mojokerto, luas area terbakar mencapai 516,45 hektare. Dari jumlah itu, 422,20 hektare berasal dari satu kejadian kebakaran besar selama periode Agustus hingga September.

Untuk mendukung penanganan, sebanyak 53 personel Manggala Agni dan Polisi Hutan telah diterjunkan. Upaya yang dilakukan meliputi patroli rutin dan penyekatan di sekitar titik kebakaran.

Kendala utama muncul karena sejumlah titik panas terdeteksi di jalur terjal yang sulit dijangkau petugas. Kondisi ini membuat penanganan difokuskan pada pembatasan area kebakaran agar kobaran api tidak merambat lebih jauh.

"Kebakaran terjadi di ketinggian yang luar biasa itu, dan memang tidak bisa dijangkau oleh petugas. Maka pertanyaannya dari mana apinya kan? Kalau petugas enggak bisa jangkau, siapa manusia menjangkau, dibakar atau bagaimana? Nah, sekarang fokus kita adalah bagaimana kemudian membuat perimeter agar dia tidak melebar," bebernya.

Mengutip Surabaya Bisnil, Emil menegaskan keselamatan personel gabungan tetap menjadi pertimbangan utama saat melakukan penanganan di medan yang sulit. Upaya pengendalian api harus dilakukan dengan memperhitungkan risiko yang dihadapi petugas di lapangan.

Adapun opsi pemadaman menggunakan metode water bombing masih memerlukan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pemprov Jatim akan membahas kemungkinan dukungan tersebut, sementara pemerintah pusat masih memprioritaskan penanganan kebakaran di Sumatra dan Kalimantan.

Sumber: