Nama Si Pendorong segera diketahui: Martial Simon.
Umur: 61 tahun.
New York pun heboh.
Tahun lalu, seorang lelaki Tionghoa tua juga jadi korban. Saat itu ia lagi mengumpulkan kaleng-kaleng bekas minuman di China Town. Ia dipukuli orang. Beberapa waktu kemudian meninggal akibat luka-lukanya.
Baik Nash maupun Simon, sama-sama ditangkap. Mereka sama-sama gelandangan. Sama-sama punya gangguan jiwa. Bahkan sama-sama residivis.
Ketika melakukan kejahatan itu, keduanya juga sudah dalam status tersangka: untuk kejahatan lain. Bukan pula hanya sekali. Berkali-kali.
Tapi, orang seperti Nash, tidak pernah ditahan. Ia boleh bebas dengan jaminan. Bulan depan, harusnya, Nash diadili untuk kejahatan sebelumnya.
Menurut catatan polisi, kejahatan dengan motif kebencian ras naik lebih 300 persen setahun terakhir. Sasarannya: keturunan Asia. Atau keturunan pulau-pulau di Pacific.
"Cukup. Sudah cukup," teriak aktivis anti kebencian ras. "Semua ini akibat penjahat dibiarkan tidak dihukum".
Maka nama Jaksa Distrik New York yang baru kembali jadi sorotan: Alvin Bragg. Ia yang membuat kebijakan agar penjahat-penjahat kecil tidak dihukum (lihat: Disway (13/1/2022: Sesal Istri).
Kebencian atas ras Asia itu meningkat sejak Presiden Donald Trump punya kebijakan anti imigran. Lalu naik lagi ketika Covid-19 melanda Amerika. Banyak yang berpendapat pandemi itu merupakan dosa Tiongkok. Bahkan muncul kesan: semua orang Asia membawa virus di badan mereka.
Trump sudah lama diganti Joe Biden. Kejahatan kebencian ras ternyata tidak juga surut.
Banyak hal, kalau sudah naik, rupanya sulit untuk diharapkan turun. (*)
Penulis: DAHLAN ISKAN, Sang Begawan Media.
Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.
Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul: Batu Ganjar