Delapan Daerah di Jawa Timur Siaga Kekeringan
Ilustrasi bencana kekeringan. Foto : Antara Foto/Dedhez Anggara--
AMEG.ID, Surabaya - Ancaman kekeringan mulai dirasakan di sejumlah wilayah Jawa Timur seiring memasuki musim kemarau 2026.
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, delapan pemerintah kabupaten telah menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan guna mempercepat penanganan dan akses bantuan bagi masyarakat terdampak.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat daerah yang telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) Siaga Darurat Kekeringan meliputi Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso, Trenggalek, Pasuruan, Lumajang, Bangkalan, Blitar, dan Lamongan.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto mengatakan penetapan status tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mempercepat langkah mitigasi mulai dari pemetaan wilayah terdampak hingga pengajuan dukungan kepada pemerintah provinsi.
"Saat ini ada delapan daerah yang sudah menerbitkan SK siaga darurat kekeringan. Terbaru adalah Kabupaten Trenggalek," ujar Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto saat dikonfirmasi, Minggu (7/6/2026) melansir IDN Times Jatim.
Dari seluruh daerah yang telah menetapkan status siaga, Kabupaten Bondowoso menjadi wilayah pertama yang mengajukan bantuan distribusi air bersih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Permohonan tersebut langsung ditindaklanjuti BPBD Jatim melalui pengiriman puluhan tangki air untuk memenuhi kebutuhan warga yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.
"Untuk daerah yang telah dilakukan dropping air bersih yaitu Kabupaten Bondowoso sebanyak 22 rit. Setiap rit berisi 5.000 liter air bersih sehingga total yang sudah didistribusikan mencapai 110.000 liter," kata Gatot.
Distribusi tersebut menjadi bagian dari langkah cepat pemerintah dalam menjaga ketersediaan air bersih bagi masyarakat yang terdampak penurunan debit sumber air selama musim kemarau.
BPBD Jatim memperkirakan potensi kekeringan tahun ini perlu mendapat perhatian khusus. Musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung lebih kering dibandingkan beberapa tahun terakhir sehingga berisiko memperluas wilayah yang mengalami krisis air bersih.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah provinsi telah menyiapkan cadangan air bersih beserta sarana pendukung yang dapat segera dikirim ke daerah yang membutuhkan.
Persiapan tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan dapat disalurkan dengan cepat ketika laporan kekeringan mulai meningkat.
"Kami tidak hanya menyiapkan air bersih, tetapi juga tandon atau tempat penyimpanan air. Sesuai arahan Ibu Gubernur, kami siap mendistribusikan bantuan ke kabupaten dan kota yang membutuhkan," katanya.
Selain menyiapkan logistik, BPBD Jatim juga terus melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk memantau perkembangan kondisi sumber air di lapangan.
Sumber: