Gubernur Khofifah dan Warga Madura Punya Keinginan Sama

A PHP Error was encountered
Severity: Warning
Message: array_multisort(): Argument #1 is expected to be an array or a sort flag
Filename: frontend/detail-artikel.php
Line Number: 116
Backtrace:
File: /var/www/html/ameg.disway.id/application/views/frontend/detail-artikel.php
Line: 116
Function: array_multisort
File: /var/www/html/ameg.disway.id/application/controllers/Frontend.php
Line: 561
Function: view
File: /var/www/html/ameg.disway.id/index.php
Line: 317
Function: require_once
AMEG - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi telah menyampaikan tuntutan Koalisi Masyarakat Madura Bersatu (KMMB) yang disampaikan dalam demo di depan Balai Kota Surabaya, Senin (21/6/2021) siang.
Usai menemui para pedemo Eri bertemu Gubernur Jawa Timur Khofifah di Gedung Negara Grahadi. Yang disampaikan kepada gubernur adalah usulan pendemo soal tes swab antigen dan penyekatan di tingkat desa.
Menurut Eri, apa yang disampaikan pedemo hampir sama dengan keinginan gubernur. Sehingga dilakukan pengamanan di daerah hingga tingkat desa dan dusun.
"Kalau itu sudah berjalan, tidak perlu lagi ada penyekatan (di Jembatan Suramadu)," ujar Eri di Gedung Negara Grahadi, Senin (21/6/2021) sore.
Menurut Eri, usulan itu oleh gubernur akan dibahas bersama Pangdam V Brawijaya. Apakah penyekatan dulu, atau dikuatkan di tingkat desa. Setelah itu tidak perlu lagi penyekatan di Suramadu karena di Bangkalan sudah bisa seperti di Surabaya. "Jadi bisa berjalan di masing-masing daerah," kata Eri.
Sementara saat demo, Koalisi Masyarakat Madura Bersatu (KMMB) mengancam jika usulan tidak segera dipenuhi mereka akan terus berdemo dan menutup Jalan Wali Kota Mustajab.
Koodinator lapangan KMMB Ahmad Annur meminta, tidak ada diskriminasi. Saat Suramadu disekat, banyak warga Madura kesulitan mencari nafkah. ”Kita matibukan karena korona. Tapi, karena kelaparan,” ujarnya.

Para pedemo sejak pagi berangkat dari Madura. Mereka ditemui Eri dengan berjalan kaki dari Balai Kota menuju gerbang selatan Taman Surya, pukul 14.00.
Begitu memegang mikrofon, Eri langsung mengajak massa bershalawat. Dalam dialog dengan pedemo, Eri menegaskan bahwa tidak adadiskriminasi warga.
Dikatakan Eri, kakek dan mertuanya adalah orang Madura. Ia juga punya banyak saudara dari Madura. ”Saya sedih kalau dibilang melakukan diskriminasi,” ujar Eri.
Eri menjelaskan bahwa wali kota tidak punya kewenangan menyekat Suramadu. Keputusan itudisepakati bersama forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) Jawa Timur.
Sedangkan upaya penyekatan, menurut Eri, justru dilakukan untuk melindungi warga Madura. Sebab yang disekat tidak hanya pintu masuk Surabaya. Warga yang hendak ke Madura juga harus diswab di Surabaya. Artinya swab dilakukan dari dua sisi.
Namun warga tetap bersikukuh penyekatan yang sudah dua pekan itu harus dibuka. Warga yangmayoritas adalah sopir mengeluh karena setiap dua hari sekali harus diswab. (*)
Sumber: