Kebiri Kimia, Hasil Perang Empati vs Egoistik

Kebiri Kimia, Hasil Perang Empati vs Egoistik

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: array_multisort(): Argument #1 is expected to be an array or a sort flag

Filename: frontend/detail-artikel.php

Line Number: 116

Backtrace:

File: /var/www/html/ameg.disway.id/application/views/frontend/detail-artikel.php
Line: 116
Function: array_multisort

File: /var/www/html/ameg.disway.id/application/controllers/Frontend.php
Line: 561
Function: view

File: /var/www/html/ameg.disway.id/index.php
Line: 317
Function: require_once

Kebiri kimia bukan pengobatan sekali suntik. Dokter akan menyuntik kebiri kimia sebulan sekali. Paling jarang, setahun sekali dengan dosis lebih tinggi dibanding yang bulanan.

Nama lain dari kebiri kimia adalah terapi hormon. Disebut juga terapi supresi androgen. Atau terapi depresi androgen.

"Obatnya, banyak beredar di Indonesia," kata Dr Nur Rasyid, SpU(K), pakar urologi dari RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, kepada pers, beberapa tahun lalu.

Banyak pihak yang kontra. Menyatakan, kebiri diperkirakan tidak bakal menimbulkan efek jera. Menurut mereka, terpidana perkosa diterapi, dikurangi tingkat libidonya. Kalau dikebiri justru brutal.

Pendapat ini mirip dengan pendapat, bahwa hukuman (bentuk apa pun) diperkirakan tidak akan menimbulkan efek jera. Yang benar, penjahat diterapi psikologis, supaya tidak jahat.

Itu seumpama diikuti, berbiaya mahal. Sedangkan, memberi makan - minum narapidana saja, negara sudah boncos. Apalagi seandainya semua penjahat diberi makan - minum, sekaligus diterapi psikologis.

Terpenting, pendapat tersebut mengajak diskusi mundur ke zaman purba: Tentang perlukah penjahat dihukum? Ataukah cukup diterapi saja? (*)

Sumber: