Pembunuh yang Meringis Ternyata Niat Bunuh 3 Orang

Pembunuh yang Meringis Ternyata Niat Bunuh 3 Orang

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: array_multisort(): Argument #1 is expected to be an array or a sort flag

Filename: frontend/detail-artikel.php

Line Number: 116

Backtrace:

File: /var/www/html/ameg.disway.id/application/views/frontend/detail-artikel.php
Line: 116
Function: array_multisort

File: /var/www/html/ameg.disway.id/application/controllers/Frontend.php
Line: 561
Function: view

File: /var/www/html/ameg.disway.id/index.php
Line: 317
Function: require_once

Jesperson tinggi-besar. Terakhir, tinggi 6 kaki 8 inci (2,02 meter), sebelum ditangkap polisi dan ditahan, 30 Maret 1995, ia berbobot 126 kilogram. Untuk ukuran petinju kelas berat dunia, pun ia tergolong besar.

Semua korban Jesperson mati dengan cekikan. Dengan postur sebesar itu, bisa dibayangkan jari Jesperson bisa sebesar pisang susu. Dan, terlatih mencekik.

Ternyata masa kecil Jesperson, pahit. Ia anak ke tiga dari lima bersaudara, pasutri Leslie Jesperson dan Gladys Jesperson. Lahir dan dibesarkan di Chilliwack, British Columbia, Kanada. Ayahnya sopir truk, suka mabuk.

Sejak kecil Jesperson sering dipukuli ayahnya. Disamblek ikat pinggang. Tujuannya mendidik kedisiplinan. Kebetulan, Jesperson kecil kurang cerdas. Tapi badannya bongsor.

Dengan badan begitu, ia justru sering di-bully teman, di sekolah dan lingkungan rumah. Di-bully dan dipukuli. Hanya gegara badan bongsor. Jika melawan, Jesperson dikeroyok.

Lengkaplah kepahitan Jesperson kecil. Di rumah, sekolah, dan lingkungan rumah. Akibatnya, ia penyendiri.

Sebagai pelampiasan, ia suka membunuh hewan. Ayam, kucing, anjing. Dengan cara dicekik. Jadi, dia latihan nyekik sejak kecil. Pembunuhan ia lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Itu ketika ia masih usia delapan.

Di usia sepuluh, ia punya terman bernama Martin. Suatu hari mereka berkelahi. Jesperson mencekik leher Martin. Nyaris, Martin mati, jika ayah Jesperson tidak segera menarik anaknya.

Lulus SMA, ia tidak dikuliahkan. Sebab, ayahnya meyakini, Jesperson tidak mampu mengikuti pelajaran. Ia pernah mendaftar jadi polisi, tapi tidak lulus. Akhirnya ia jadi sopir truk.

Di usia 20, 1975 Jesperson menikahi Rose Hucke. Beranak tiga. Ternyata, Jesperson penyayang keluarga. Ia sama sekali tidak pernah melakukan KDRT. Sampai ia ditangkap polisi, dengan tuduhan serangkaian pembunuhan.

Di Indonesia sangat jarang buku biografi penjahat. Mungkin, penulis kesulitan mendapatkan narasumber relevan. Padahal, latar belakang penjahat menginspirasi masyarakat. Agar mendidik anak-anak dengan benar. Supaya tidak jadi penjahat.

Bapak keriminologi dunia, Cesare Lombroso (1835 - 1909) mengatakan: Kriminologi bertujuan dua: Mengapa orang jadi jahat? Bagaimana terhindar dari kejahatan?

Di nomor satu, melahirkan banyak teori. Juga biografi. Menarik garis waktu mundur ke masa kecil pelaku kejahatan.

Pembunuhan di apartemen Jakarta sudah diungkap polisi, sebagian niat pelaku. Pastinya, orang ingin tahu, mengapa pelaku yang pernah begitu religius, bisa jahat. (*)

Sumber: