Polisi Kulit Putih Memang Hopeless…

A PHP Error was encountered
Severity: Warning
Message: array_multisort(): Argument #1 is expected to be an array or a sort flag
Filename: frontend/detail-artikel.php
Line Number: 116
Backtrace:
File: /var/www/html/ameg.disway.id/application/views/frontend/detail-artikel.php
Line: 116
Function: array_multisort
File: /var/www/html/ameg.disway.id/application/controllers/Frontend.php
Line: 561
Function: view
File: /var/www/html/ameg.disway.id/index.php
Line: 317
Function: require_once
Two Distant Strangers memenangkan piala Oscar kategori Film Live Action Pendek Terbaik dalam Academy Awards 2021 Senin lalu (26/1). Sang penulis dan sutradara, Travor Free (yang menggarap film itu dengan Martin Desmond Roe), mencatat sejarah sebagai sineas kulit hitam pertama yang memenangkan kategori tersebut.

Kemenangan itu sangat layak. Film berdurasi tak lebih dari setengah jam itu dengan jenius menggambarkan ketakutan konstan warga kulit hitam di AS. Mereka selalu menghadapi ancaman dibunuh oleh polisi. Hanya karena berkulit hitam.
Sepanjang tahun lalu, tak terhitung berapa nyawa warga Afrika-Amerika melayang di tangan penegak hukum.
Puncaknya adalah George Floyd. Yang memicu gerakan nasional Black Lives Matter.
Dari sudut pandang Carter—yang mewakili pikiran Travon Free—orang kulit hitam akan selalu salah di mata polisi kulit putih. Nyawa mereka selalu terancam, sekalipun mereka orang baik-baik. Hidup dengan baik-baik pula. Dan seperti kata Free di pidato penerimaan Oscar, kekayaan maupun popularitas tak akan menyelamatkan mereka dari nasib itu.
Carter digambarkan makmur. Celana dalamnya Calvin Klein. Earphone-nya dari merek terkenal. Tapi malah dicurigai sebagai penjual narkoba. Serumit itu ternyata hidup menjadi kulit hitam di AS. Perri (diperankan Zaria Simone), bahkan secara blak-blakan bilang, ’’Aku cewek kulit hitam yang tinggal di AS. Tentu aku butuh pistol.’’
Saking gamblangnya film ini, memang berpotensi makin mempertajam konflik rasial yang sudah ada. Tapi harus diakui, Two Distant Strangers menjadi semacam wake up call. Terutama buat moviegoer di luar AS. Bahwa kebencian berdasarkan ras sudah sangat mengerikan. Tidak hanya di AS. Tapi juga di seluruh dunia.
Kebencian tidak hanya mengarah kepada orang kulit hitam. Tapi juga ras minoritas yang lain. Bahkan kita—secara tidak disadari—sering memberikan label dan prejudice ke kelompok-kelompok suku yang berbeda. Dan itu harus diakhiri. (*)
Sumber: