BMKG Peringatkan Bahaya Laut Jatim, Gelombang Tinggi hingga Rob

BMKG Peringatkan Bahaya Laut Jatim, Gelombang Tinggi hingga Rob

Ilustrasi gelombang tinggi dan banjir ROB. Foto: Istimewa--

AMEG.ID, Surabaya - Aktivitas pelayaran dan masyarakat pesisir Jawa Timur perlu meningkatkan kewaspadaan hingga 30 Oktober 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak Surabaya memperingatkan potensi gelombang laut setinggi 2,5 meter di perairan selatan Jawa Timur serta ancaman banjir rob di sejumlah kawasan pesisir.

Prakirawan BMKG Tanjung Perak, Muhamad Biyadihie mengatakan perairan selatan Jawa Timur menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian karena berpotensi mengalami gelombang laut dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter.

"Sampai dengan 30 Oktober 2026, perairan Selatan Jawa Timur wajib diwaspadai gelombang laut maksimal 2,5 meter," ujar Biyadihie mengutip Detik Jatim.

Potensi gelombang tinggi mencakup perairan Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, hingga Banyuwangi. Kondisi ini perlu diperhatikan oleh nelayan dan operator transportasi laut terutama saat merencanakan aktivitas pelayaran di wilayah terdampak.

Biyadihie menjelaskan peningkatan gelombang dipengaruhi dinamika pergerakan massa udara atau angin muson timur. Angin di perairan Jawa Timur saat ini didominasi arah timur laut hingga tenggara.

"Penyebab gelombang tinggi untuk saat ini masih disebabkan dinamika pergerakan massa udara atau angin muson timur," terangnya.

Selain ancaman gelombang tinggi, BMKG juga mengingatkan potensi banjir rob yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat di kawasan pesisir. Wilayah yang perlu mewaspadai fenomena ini meliputi Pelabuhan Surabaya, Benowo, Kalianak, Gresik, Lamongan, Tuban, Sidoarjo, Pasuruan, hingga Probolinggo.

Meski berpotensi terjadi dalam periode yang berdekatan, gelombang tinggi dan banjir rob memiliki mekanisme penyebab berbeda.

Gelombang tinggi berkaitan dengan kondisi angin dan dinamika atmosfer, sedangkan banjir rob dipengaruhi pasang maksimum air laut yang berkaitan dengan fase bulan purnama (full moon) dan posisi perigee yakni saat jarak Bulan dengan Bumi berada pada titik terdekat.

"Peringatan dini gelombang tinggi berbeda mekanisme penyebabnya dengan banjir rob. Potensi banjir rob atau pasang maksimum diprediksi terjadi di kawasan pesisir Jawa Timur" jelas Biyadihie.

Menghadapi kondisi tersebut, BMKG meminta nelayan, pengelola transportasi laut, dan warga pesisir untuk menyesuaikan aktivitas dengan perkembangan cuaca maritim. Masyarakat juga diminta mengikuti pembaruan informasi dari kanal resmi BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi laut selama musim pancaroba.

"BMKG Tanjung Perak mengimbau untuk waspada terhadap perubahan cuaca maritim yang sangat dinamis di musim pancaroba saat ini, serta selalu mengutip atau merujuk informasi pada sumber resmi BMKG," pungkasnya.

Sumber: