Rasanya Asin dan Bikin Kulit Pliket

Minggu 30-05-2021,05:03 WIB
Reporter : Djono W. Oesman
Editor : Djono W. Oesman

Tepat pada 29 Mei, 15 tahun lalu, bencana semburan lumpur itu terjadi di Porong. Kini, berbagai persoalan terkait lingkungan masih belum teratasi di tempat itu.

***

AMEG - Cuaca terik menyambut kami di Desa Gempolsari, Sidoarjo, kemarin. Rasanya menyengat. Untuk menuju lokasi itu perlu waktu 20-30 menit dari pusat kota Sidoarjo, menuju ke selatan.

Di kawasan itu tampak tembok pembatas tanah milik pemerintah, di dalamnya, rerumputan liar tumbuh. Dinaungi tanggul besar penahan lumpur.

Selama 15 tahun, warga di sana tetap berdampingan dengan bau menyengat, plus suhu yang nylekit di kulit.

Kemarin, tak ada seremoni teatrikal pada ’’ulang tahun’’ semburan lumpur itu. Yang ada justru aksi nyata dari Komunitas Kecil Bergerak. Komunitas itu turun langsung ke warga membagi-bagikan air.

Ada empat tandon air berkapasitas 100 liter yang isinya dibagikan untuk warga. Lalu ada satu tangki air besar berkapasitas 7.500 liter yang juga disalurkan untuk warga. Tidak sampai setengah hari air itu ludes. “Ada tandon warga berukuran 2.000 liter. Da ada tandon di musala yang daya tampungnya lebih besar,” kata Ketua Koordinator Kecil Bergerak Ardi Kurniaji.

Semburan Lumpur Lapindo yang sudah 15 Tahun menyembur. (Foto: Fauzan)

Ia merencanakan, distribusi air bersih dilakukan berkala. Kalau bisa saban pekan. Dan pria asal Candi itu optimistis bisa melakukan itu hingga setahun ke depan.

Sejak 2009, air di kawasan itu terkontaminasi endapan lumpur. “Tidak enak kalau dibuat mandi. Pliket kabeh,” ujar Sukardi, warga Desa Gempolsari RT 11/RW 03, kemarin.

Warga menunjukan air yang terkontaminasi karena lumpur Lapindo, kemarin (29-5). (Foto: Fauzan)

Ketua RT 11 Desa Gempolsari Khoirul Anam mengatakan, selama ini tidak ada uluran tangan dari pemerintah. Padahal, rapat tingkat desa sering digelar. Tiap kali naik ke atas, terhenti tanpa alasan. “Dulu sempat diberi air PDAM. Tapi nyendat-nyendat. Akhirnya tidak dikirim lagi,” ucapnya.

Menurutnya, bantuan air itu berguna. Daripada mereka harus beli air layak konsumsi tiap dua hari sekali. Sekali beli harus mengeluarkan uang Rp 15-20 ribu. “Bisa sampai 5 sampai 10 jeriken. Kadang lebih,” jelasnya.

Warga memang tak punya pilihan lain. Pasalnya, air keran rumahnya bikin mata pedih untuk cuci muka. Air itu juga tidak bisa memunculkan busa kalau dipakai mandi. Selain itu, katanya, baju warna putihnya lama-lama menguning. “Kalau buat nyuci malah bikin boros sabun,” ungkapnya.

Setelah tandon warna kuning terisi air Prigen, M Irsyad Al Kahfi, 8, menjajal air yang katanya segar ini. Ia tampak malu-malu tapi mau. Wajah bahagianya memancar. Sesekali ia mengusap wajahnya dan meminum langsung air itu. Seketika, Kahfi basah kuyup. (*)

Tags :
Kategori :

Terkait

Terpopuler