Tebing Curam dan Kabut Tebal Jadi “Benteng” Api di Gunung Semeru

Sabtu 29-08-2026,11:39 WIB
Reporter : Admin ameg
Editor : Admin ameg

AMEG.ID, Lumajang - Pemadaman kebakaran hutan di kawasan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang tidak hanya berpacu dengan meluasnya api.  Medan berupa tebing curam, kabut tebal, kepulan asap serta angin kencang menjadi tantangan utama tim gabungan dalam menjangkau area yang terbakar.

Hingga Jumat (28/8/2026), penanganan difokuskan pada dua lokasi yakni kawasan B29 di Desa Argosari dan Ranu Kembang di Desa Ranupani. Kebakaran diperkirakan telah menghanguskan lahan sekitar 10 hektare meskipun pemetaan masih terus dilakukan untuk memastikan luas kerusakan.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan angka tersebut masih dapat berubah mengikuti perkembangan di lapangan.

“Luas lahan terbakar kurang lebih 10 hektare namun data terus berkembang,” ujar Gatot.

Posisi api yang berada di lereng dengan tingkat kemiringan tinggi membuat personel tidak dapat sepenuhnya mengandalkan pemadaman manual. Keselamatan petugas menjadi pertimbangan karena akses menuju titik kebakaran sulit dilalui dan berisiko saat kondisi angin berubah.

Situasi itu mendorong BPBD Jawa Timur bersama tim gabungan mengoptimalkan pemadaman dari udara menggunakan helikopter. Namun, operasi water bombing juga tidak dapat dilakukan setiap saat karena sangat bergantung pada jarak pandang dan kestabilan cuaca.

“Ditambah kepulan asap yang cukup tebal sehingga memengaruhi visibilitas helikopter saat water bombing,” katanya.

Helikopter PK-DAP sempat diterbangkan dalam dua sortie untuk menjatuhkan air ke area prioritas. Dalam operasi tersebut, helikopter membawa total 12.000 liter air yang dilepaskan secara bertahap ke titik-titik kebakaran.

“Dalam dua sortie itu dilakukan 12 kali water bombing dengan total 12.000 liter air yang dijatuhkan ke titik-titik kebakaran,” ujarnya.

Operasi udara kemudian dihentikan pada pukul 11.19 WIB karena kabut menutup jalur penerbangan menuju lokasi. Angin kencang juga meningkatkan risiko bagi keselamatan awak helikopter dan dapat mengurangi ketepatan penjatuhan air.

Di jalur darat, pemantauan dilakukan secara berkala untuk mengetahui pergerakan api dan kemungkinan munculnya titik baru. BPBD Jawa Timur berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Lumajang dan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru atau TNBTS dalam menentukan langkah penanganan.

“Pemantauan di wilayah Kecamatan Senduro juga dilakukan secara berkala oleh tim gabungan yang melibatkan Babinsa, Polsek Senduro, petugas TNBTS, Manggala Agni, serta unsur pemerintah kecamatan,” pungkasnya.

Kebakaran itu juga berdampak terhadap kegiatan wisata. Balai Besar TNBTS menutup seluruh aktivitas pendakian Gunung Semeru sejak 26 Agustus 2026. Penutupan diberlakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan untuk melindungi pendaki sekaligus memberi ruang bagi operasi pemadaman.

Dengan kondisi medan yang tidak mudah dijangkau, strategi penanganan dilakukan melalui pembagian peran. Tim darat memantau dan menangani area yang masih aman untuk dimasuki, sedangkan helikopter diarahkan menuju lokasi ekstrem ketika cuaca memungkinkan.

Kecepatan pemadaman kini sangat dipengaruhi perubahan cuaca di kawasan pegunungan. Kabut, asap dan angin bukan hanya menghambat upaya menjinakkan api tapi juga menentukan kapan operasi udara dapat kembali dijalankan dengan aman.

Kategori :