Armada Dalam Negeri Terbatas, Puluhan Pesawat Asing Dikerahkan

Kamis 03-09-2026,15:40 WIB
Reporter : Admin ameg
Editor : Admin ameg

AMEG.ID, Kalimantan - Keterbatasan armada pemadam udara di dalam negeri membuat pemerintah mendatangkan pesawat asing untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

Kementerian Perhubungan telah menerbitkan izin penerbangan bagi sekitar 35 pesawat yang akan mendukung operasi pemadaman selama masa darurat karhutla.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan pemadaman dalam jangka pendek menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah harus menambah sarana dari luar negeri karena jenis pesawat yang dibutuhkan belum sepenuhnya tersedia di Indonesia.

"Pada intinya, kita akan selalu mendukung apa yang menjadi prioritas. Seperti penanganan kebakaran ini kan menjadi prioritas utama pada saat ini. Dalam jangka pendek ini juga harus segera dipadamkan," ujarnya melansir CNN Indonesia.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi lembaga yang mendatangkan armada tersebut. Sementara itu, Kementerian Perhubungan berperan memberikan perizinan agar pesawat dapat masuk dan digunakan dalam operasi penanganan karhutla.

"Kita membutuhkan segala prasarana yang dibutuhkan untuk memadamkan termasuk pesawat-pesawat asing yang kebetulan tidak dimiliki di Indonesia. Jadi, kita datangkan, didatangkan oleh BNPB, kemudian digunakan untuk pemadaman dan kita memberikan izin," ujar Dudy.

Sebagian besar armada yang didatangkan berupa helikopter. Jenis pesawat itu dipilih karena dapat menjangkau kawasan kebakaran dari udara dan mendukung proses pemadaman di lokasi yang sulit dicapai oleh tim darat.

Menurut Dudy, izin bagi armada asing telah diselesaikan. Pesawat-pesawat tersebut juga mulai digunakan untuk mendukung penanganan kebakaran di wilayah terdampak.

"Oh ya pesawat-pesawat tersebut sudah beroperasi untuk menangani karhutla. Itu kan sudah kita berikan izin semua. Tadi kan ada sekitar 35 pesawat," ujarnya.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F Laisa menyampaikan armada tersebut berasal dari delapan negara yakni Australia, Rusia, Amerika Serikat, Ukraina, Selandia Baru, Laos, Vietnam, dan Kanada.

"Negara asalnya dari Australia, Rusia, Amerika, Ukraina, New Zealand, Laos, Vietnam, dan Kanada," jelasnya.

Dalam data yang disampaikan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, terdapat 11 pemegang Air Operator Certificate (AOC) dengan total 36 helikopter.

Pemegang AOC tersebut meliputi Ersa Eastern Aviation, Genesa Dirgantara, Falcon Patriot Utama, Pegasus Air Service, Whitesky Aviation, Smart Cakrawala Aviation, Elang Nusantara Air, Intan Angkasa Air Service, Volta Pasifik Aviasi, Dabi Air Nusantara, dan Derazona Air Service.

Kemenhub belum menjelaskan secara terperinci perbedaan antara angka sekitar 35 pesawat yang telah memperoleh izin dengan data 36 helikopter dalam daftar pemegang AOC. Namun, armada yang izinnya telah diterbitkan dipastikan dapat langsung mendukung operasi pemadaman.

Pengerahan pesawat asing memperlihatkan bahwa respons udara menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan karhutla di Kalimantan. Operasi tersebut melengkapi pemadaman dari darat, terutama ketika titik api berada di wilayah luas atau sulit dijangkau.

Kategori :