Bilang Cinta, Tapi Membunuh

A PHP Error was encountered
Severity: Warning
Message: array_multisort(): Argument #1 is expected to be an array or a sort flag
Filename: frontend/detail-artikel.php
Line Number: 116
Backtrace:
File: /var/www/html/ameg.disway.id/application/views/frontend/detail-artikel.php
Line: 116
Function: array_multisort
File: /var/www/html/ameg.disway.id/application/controllers/Frontend.php
Line: 561
Function: view
File: /var/www/html/ameg.disway.id/index.php
Line: 317
Function: require_once
Kalau pria berkontribusi di bawah 70 persen, kemungkinan selingkuh. Kemungkinan selingkuh 30 persen. Angka yang cukup besar.
Sebaliknya, jika wanita berkontribusi 70 persen ke atas, juga kecil kemungkinan selingkuh. Tapi, kalau di bawah 70 persen, apalagi sampai nol (ibu rumah tangga murni) ada kemungkinan selingkuh. Hanya 4 persen.
Intinya, semakin rendah berkontribusi keuangan untuk hidup bersama, semakin tinggi kemungkinan selingkuh.
Hasil riset ini mengejutkan Prof Munsch. Seolah un-logic.
Tapi, hasil riset itu juga menemukan jawaban atas keheranan Munsch. Begini:
Munsch: “Baik pria, maupun wanita, membenci ketidaksetaraan dalam hubungan mereka.” Artinya, pria-wanita sama-sama menuntut kesetaraan dalam kontribusi keuangan bersama.
Siapa yang berkontribusi kecil (apalagi nol), merasa jadi pecundang. Akibatnya frustrasi. Akhirnya (kemungkinan) selingkuh.
Hasil riset Prof Munsch itu, sama sekali tidak bisa diterapkan di Indonesia. Karena, kondisi sosiologis di sini kebalikan dengan di Amerika pada saat penelitian itu (2001 - 2011).
Buktinya, tiga kasus di atas. Kusnaedi pengangguran, diceraikan, malah membunuh isterinya. Tentu, maunya bergantung makan pada isteri. Heru, malah maunya meniduri, sambil merampok F.
Jadi, kualitas moral pria Indonesia lebih rendah dibanding Amerika (atas dasar riset Prof Munsch). Adagiumnya: “Kalau bisa morotin, mengapa harus memberi?” (*)
Sumber: