Harga Gabah & Beras Anjlok, Petani Situbondo Meradang

A PHP Error was encountered
Severity: Warning
Message: array_multisort(): Argument #1 is expected to be an array or a sort flag
Filename: frontend/detail-artikel.php
Line Number: 116
Backtrace:
File: /var/www/html/ameg.disway.id/application/views/frontend/detail-artikel.php
Line: 116
Function: array_multisort
File: /var/www/html/ameg.disway.id/application/controllers/Frontend.php
Line: 561
Function: view
File: /var/www/html/ameg.disway.id/index.php
Line: 317
Function: require_once
AMEG - Sejumlah petani di Situbondo hanya bisa meradang. Pasalnya, harga gabah anjlok saat ini. Sekitar Rp 3.800 gabah kering sawah. Harga beras giling, hanya dipatok Rp 7.500 saat terjual ke selep penggilingan padi. Kondisi ini dirasakan sejumlah petani di Dusun Ardiwilis Desa Sumberkolak Kecamatan Panarukan, Situbondo. Salah satunya, Jaksun. Mengeluhkan anjloknya sejak sebulan ini.
“Harga jual gabah kering ke selep maupun para pengepul, saat ini hanya Rp 3.800. Sebelumnya minimal Rp 4.500 sampai Rp 5.000. Ini jelas tak sebanding dengan biaya tanam dan perawatan hingga panen. Per kotak sawah, biayanya minimal Rp 1.500.000. Saat panen terjual sama dengan biayanya. Bahkan ada yang tidak sampai. Jelas kami rugi,” kata Jaskun.
Ia mencoba menyelep sendiri sebagian padinya ke penggilingan. Namun lagi-lagi, harga jualnya hanya Rp 7.500 per kilogramnya. “Harga jual beras hasil penggilingan juga ikut murah. Hanya kisaran Rp 7.500 paling tinggi. Ini sangat merugikan petani,” paparnya ditemui saat panen di sawahnya, Kamis (1/7/2021).

Ia berharap Pemkab Situbondo, memikirkan nasib petani. Khususnya di masa pandemi covid saat ini. Petani pun terdampak. Hingga melemahnya ekonomi. Apalagi saat ini, banyak beras bantuan dari pemerintah. Ini jelas berpengaruh pada harga gabah dan beras petani lokal. Bahkan dirinya sudah berkali-kali menyampaikan pada wakil rakyat di DPRD.
Suprapto, anggota DPRD Situbondo telah menerima keluhan ini. Ia berharap kehadiran Pemkab Situbondo. Dalam hal ini, Bupati Karna Suswandi. Agar turun tangan menstabilkan harga gabah. Terlebih, bisa memberikan bantuan untuk meringankan biaya garap sawah.
“Mulai dari bantuan bibit, pupuk hingga obat-obatan. Sangat dibutuhkan petani. Mereka juga terdampak pandemi. Bahkan daya beli masyarakat mulai melemah, akibat banyaknya bantuan sembako sejak dua tahun terakhir,” pungkasnya. (*)
Sumber: